Mengapa Persentase Cewek Matre Lebih Besar Daripada Cowok?

Oleh : Anton Cakman.

Sebelumnya artikel mengenai mengapa cewek matre lebih banyak ketika cowok matre sudah pernah saya tulisan di berbagai blog dengan versi yang berbeda. Kali ini saya kembali ingin menuliskannya di krakatau.id, siapa tahu ada yang belum membaca dan berguna bagi para pembaca.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada wanita, saya menulis ini karena saya sangat mengagumi wanita. Menurut saya, pria dan wanita itu sama saja, tidak ada perbedaan dengan pria kecuali dalam bentuk fisik. Meskipun ada yang bilang, wanita cenderung menggunakan perasaannya ketimbang logika, sedangkan untuk lelaki sebaliknya, menurut saya tidak sepenuhnya benar, sebab saya juga sering bertemu wanita yang logikanya melebih lelaki saat melakukan sesuatu, dan juga sering menemukan lelaki yang lebih menggunakan perasaannya.

Semua berawal dari kebiasaan yang ada di lingkungan, itulah yang menjadi perkiraan saya. Ketika seorang lelaki lebih sering bergaul dengan wanita, jangan kaget jika dia memiliki tingkah seperti wanita, begitu juga sebaliknya.

Karena saya kagum dengan wanita, maka saya ingin mengajak bersama-sama untuk membuka pikiran. Mengenai alasan “mengapa cewek matre lebih banyak ketimbang cowok matre”, dengan harapan, untuk hal yang lebih baik.

Para ahli propaganda marketing, mencoba segala bentuk cara untuk memasarkan produk yang dihasilkannya. Dari produk remeh temeh hingga produk yang memang dibutuhkan masyarakat.

Produsen barang mewah akan menggunakan propaganda yang berkaitan gaya hidup para elite. Kebutuhan bukan lagi menjadi yang utama, tetapi kemewahan yang menjadi prioritas. Misalnya jam tangan yang harganya ratusan juta, mungkin rakyat jelata seperti saya tidak akan habis pikir, mengapa mereka rela membeli jam tangan tersebut yang harganya begitu mahal.

Setiap produsen, selalu mencari peluang untuk mendapatkan pasar. Berawal dari memang dibutuhkan masyarakat, sampai dengan berharap menjadi kebutuhan masyarakat.

Soal kebutuhan, kita tidak pungkiri, bahwa wanita memiliki kebutuhan yang cukup besar ketimbang pria. Hal inilah yang dapat dibaca peluangnya oleh para produsen. Dari urusan pembalut sampai sulam alis.  Menjadi wajar, jika wanita menjadi target utama pasar dalam melakukan propaganda gaya hidup yang berakhir pada kecenderungan konsumtif.

Jika dilihat dari dalam menjalin hubungan, wanita pun cenderung menunggu untuk dipilih oleh lelaki. Ketika akan melanjutkan ke jenjang pernikahan pun, wanita tetap menunggu untuk dilamar dari lelaki. Ini menyebabkan tidak banyak yang dapat dilakukan oleh kaum hawa.

Karena memilih sebagai objek untuk dipilih, wanita cenderung ingin menaikan nilai pilihnya dengan bersolek. Bahkan, tidak jarang seorang wanita yang malu keluar rumah jika belum berdandan. Jadi benar kata orang, jika ingin melihat wajah asli seorang wanita, lihatlah ketika dia bangun tidur.

Upaya menaikan nilai pilih seorang wanita ini bisa menjadi peluang bagi para produsen. Progpaganda marketing dilakukan dengan begitu terstruktur dan masif. Hal ini tanpa disadari menimbulkan wanita menjadi konsumtif, dan pada akhirnya sulit membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang keinginan.

Berawal dari sifat konsumtif pada akhirnya mengakar pada diri, tanpa sadar mempengaruhi pola pikir, maka timbullah sifat yang biasa dengan istilah matre. Berbeda dengan cowok, yang hidup dengan simple, tidak begitu banyak yang dapat dijadikan sasaran propaganda marketing. Jadi jika ada cowok matre, itu jelas cowok pemalas dan lemah.

Tidak semua cewek itu matre,sama seperti tidak semua cowok itu brengsek

Memang orang hidup itu tidak bisa makan cinta, tetapi berawal dari cinta, maka banyak hal yang bisa dilakukan sebagai wujud cinta tersebut. Seorang ibu dan bapak, melakukan apa saja demi anak yang dicintainya. Seorang istri istri terkadang merelakan suaminya untuk jauh dari dirinya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang dicintainya, meskipun dia terkadang merasa sepi karena tidak ada sang belahan hati.

Menjadi cewek atau cowok matre itu buruk, sebab kita akan sulit membedakan dengan pelacur atau gigolo, sebab hanya mencari keuntungan dalam suatu hubungan, tidak mau berproses bersama dalam untung dan malang.

Sekian dan terima kasih.

Gambar : Kompasiana

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *