Mencintai Rupiah Sebagai Upaya Bersyukur dan Berkontribusi Terhadap Negara

Kita pasti sepakat, bahwa uang merupakah hal yang penting dalam kehidupan ini. Itu sudah tidak dapat dipungkiri lagi, terlepas memang ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dibeli dengan uang, contohnya waktu yang membuat kita menua, itu tidak akan bisa kita beli dengan uang untuk memperpanjang usia kita mencapai ribuan.

Pentingnya uang di dalam kehidupan, membuat kita bekerja keras untuk mendapatkan uang. Mata uang yang digunakan sebagai alat transaksi dalam setiap negara tentu berbeda-beda. Di negara kita tercinta, kita menggunakan mata uang Rupiah (Rp) dalam setiap transaksi.

Seorang pedagang asongan, rela berjemur di terik matahari pinggir jalan raya demi rupiah. Seorang nelayan dengan gagah berani mengarungi lautan untuk mencari ikan, itu juga demi rupiah. Orang bekerja dengan profesi yang bermacam-macam dilakukan untuk mendapatkan rupiah yang diharapkan dapat digunakan untuk menunjang perekonomian dalam kehidupan, serta menunjang manusia untuk berbuat baik kepada sesama dengan berbagi.

Kita juga pasti sepakat untuk hal yang berharga, kita meski merawat dan menghargainya. Sama halnya seperti rupiah yang kita cari dengan cucuran keringat, semestinya juga kita rawat dan kita hargai dengan baik. Selain itu, menghargai dan merawat uang yang kita dapat dengan bersusah payah juga merupakan wujud ungkapan syukur kepada sang pemberi rezeki, yaitu Tuhan.

Bagaimana kita merawat rupaih? Cukup dengan tidak melipat-lipat, tidak meremas-remas, tidak mencoret, tidak menstaples dan tindakan lainya yang dapat merusak uang. Karena itu sama saja kita tidak bisa merawat dan menghargai hal berharga yang kita dapatkan dengan bersusah payah. Sebagai contoh, ketika anda dengan susah payah mencari istri, tetapi setelah anda mendapatkan istri anda, lalu anda tidak mau merawat dengan cara menjaga, menafkai secara lahir dan batin, tentu istri anda akan meninggalkan anda. Itulah hukum sebab akibat, dan mungkin bisa jadi, karena anda tidak menghargai uang rupiah kita, maka uang tersebut akan enggan berlama-lama di tangan anda.

Saya masih sangat sering melihat uang rupiah yang lusuh karena bekas diremas ketika menerima kembalian dari berbelanja. Saya juga sangat sering melihat orang-orang merekatkan uang kertas dengan menstaples. Dan bahkan saya sering mendapatkan uang rupiah yang berisi coretan. Hal ini sungguh memprihatinkan.

Jika anda seorang religius, bisa anda bayangkan, jika anda memberi sesuatu hal kepada pasangan anda, tetapi tidak dihargai, pasti anda akan kecewa. Begitu pula mungkin dengan Tuhan, yang akan bersedih ketika anda mendapatkan rezeki dari Tuhan berupa uang, tetapi anda tidak menghargainya.

Selain itu, di uang rupiah juga ada gambar-gambar pahlawan nasional yang harus kita hormati. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawan?

Dan yang paling penting, dengan kita merawat uang Rupiah kita, maka negara bisa menghemat biaya dalam hal mencetak uang baru untuk pengganti uang Rupiah yang sudah rusak dan tidak layak edar.

Pada tahun 2016, uang tidak layak edar mencapai 10 triliun, yang mau tidak mau harus dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Setiap tahun uang tidak layak edar mengalami peningkatan, pada tahun 2015, uang yang tidak layak edar yang harus dimusnahkan mencapai 8,5 triliun.

Uang kertas yang rentan dengan kerusakan, justru lebih mahal biaya cetaknya dibanding uang logam. Mahalnya biaya, sangat dipengaruhi oleh kompleksitas sistem pengamanan yang diterapkan dalam uang tersebut. Untuk biaya pastinya, hal itu tidak dapat diungkapkan ke publik karena bersifat rahasia.

Jika kita tidak bisa berkontribusi langsung kepada negara, paling tidak kita bisa melakukan hal yang paling sederhana untuk negara. Jadi mulai sekarang, mari kita merawat Rupiah kita, cintai Rupiah kita, jangan dilipat-lipat, diremas-remas, dan jangan dicoret-coret.