Perjalanan ke Lampung dan Rasa Khawatir terhadap Preman hingga Begal, Masihkah?

Diluaran sana, masih ada anggapan Lampung belum sepenuhnya aman. Terkenal dengan preman dan begalnya. Itu sih katanya, terkait apakah itu benar atau tidak, menurut saya tergantung anda tinggal di Lampung mana.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2004, di sana bertemu teman yang pernah mempunyai istri orang Lampung. Dia menceritakan pengalaman buruknya ketika pergi ke Lampung bersama dengan saudaranya pada tahun 90 an. Saat itu saudaranya sempat dikalungi celurit dalam Bus arah ke Rajabasa dan dia sendiri pernah dicopet.

Cerita lain lagi ketika saya mencari sesuap nasi di Glodok pada tahun 2009, disana teman-teman banyak bercerita tentang tertangkapnya begal dari lampung yang beroperasi di Jakarta. Cerita lainnya seperti perjalanan kurang menyenangkan ketika menggunakan kendaraan umum sering dikeluhkan akibat pemalakan dan lain sebagainya.

Dan itu menurut cerita, bagaimana pada kenyataannya? Saya yang lahir di Lampung, tentu akan sedikit bercerita tentang apa yang saya alami dengan tujuan sebagai pembelajaran bersama.

Dulu sekitar tahun 2000-2003, saya sangat malas masuk terminal Raja Basa karena sering adanya tampang-tampang sangar di sana. Begitu pula ketika saya masuk ke tempat-tempat yang dianggap pusat perbelanjaan, banyak sekali preman nongkrong dengan bebas membawa senjata sajam sambil menegak minuman keras. Namun saat ini sudah tidak seperti itu lagi.

Setelah tahun 2003 hingga 2009, saya sering bepergian ke pulau Jawa, khusnya ke Jakarta. Ketika saya menyeberang menggunakan jasa kapal laut untuk pulang ke Lampung, hal yang bikin saya malas adalah ketika turun kapal di pelabuhan Bakauheni hendak menuju ke terminal bus. Dari calo, kondektur bus, sampai tukang ojek seringkali setengah memaksa dengan menarik-narik tangan dengan sesekali berusaha membawakan barang bawaan.

Di sekitaran tahun yang sama pun ada teman yang bercerita hampir setujahan, hal itu diakibatkan membela seorang ibu yang membawa anak ditarik-tarik hingga anaknya nangis. Di situ dia diajak ke tempat sepi lalu lehernya ditodong pisau, tidak kalah cepat diapun mengarahkan pisaunya dikemaluan orang yang menodongnya. Meskipun dia dikelilingi oleh rombongan si penodong dia tetap tenang, lalu percakapan pun terjadi, akhirnya keributan tidak terjadi karena mereka tahu teman saya juga orang dari Lampung dan tinggal tidak jauh dari Bakauheni.

Itu dulu, terakhir saya ke Jakarta menggunakan angkutan umum, sudah lebih baik. Selain pelabuhan yang sudah direnovasi dan cukup nyaman dalam antri tiket, sewaktu pulang dan turun dari pelabuhan Bakauheni menuju terminal pun sudah tidak ada tarik-menarik lagi, dan bahkan ada satpam yang menahan para calo dan kondektur bus untuk tidak masuk ke dalam supaya tetap menunggu dan menawarkan ketika para penumpang sudah diluar.

Mungkin fenomena kurang nyamannya perjalanan yang dulu-dulu membuat Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian  di musim mudik ini mencoba meyakinkan, bahwa mudik tahun 2018 ini aman, jadi jangan takut untuk menuju ke Lampung di malam hari.

Selain itu, fenomena begal pun tidak luput dari perhatian Kapolri di musim mudik tahun 2018. Beliau mengancam jika Kapolres tidak bisa mengatasi begal, maka Kapolri yang akan membegal Kapolres tersebut.

Lalu bagaimana kenyataannya? Memang begal masih ada terjadi di Lampung, tetapi tidak semua tempat rawan begal, hanya daerah-daerah tertentu saja dan itupun sangat jarang juga. Daerah yang rawan begal tentu saja jalan yang masih sepi penduduknya.

Intinya sih, aksi premanisme, begal dan kejahatan lainnya juga di setiap daerah mempunyai potensi yang sama, bukan di Lampung saja. Jadi santai saja, jangan terlalu parno, karena masyarakatpun sudah sadar, bahwa aksi kejahatan merupakan musuh bersama yang harus dibarantas. Jadi meski pinter-pinter dan kewaspadaan kita saja yang mesti ditingkatkan.

Sekian dan terima kasih

 

https://regional.kompas.com/read/2018/06/11/21114151/kapolri-kalau-tidak-bisa-atasi-begal-kapolresnya-yang-saya-begal

https://nasional.kompas.com/read/2018/06/12/02310021/pandangan-masyarakat-soal-menyeberang-ke-lampung-malam-hari-harus-diubah

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *