Wajah-wajah Tuhan dalam Saudara yang Tersisih

Aku tidak kaya, tetapi mampu bersekolah meski tidak sampai menjadi profesor, terkadang aku terlalu mendongak ke atas dan lupa untuk menurunkan lagi kepalaku sehingga lelah menghampiriku.

Ketika aku pulang dari nonton di bioskop jam terakhir, atau sekedar pulang nongkrong bersama teman-teman, aku melewati sebuah jalan dimana ada sebuah Gereja dan Masjid yang kokoh berdiri berhadapan, tidak jauh dari situ terdapat pusat perbelanjaan juga pusat grosir terkenal di kotaku.

Dokumentasi pribadi: Bagi-bagi nasi bungkus

Masih seputar tempat tersebut, dipinggir jalan walaupun malam sudah larut masih ada sejumlah becak yang berjejer dengan rata-rata terdapat lelaki tua yang tertidur pulas. Walaupun tubuh tersiksa dengan tempat yang memaksa tubuh tidak dapat berbujur dengan leluasa karena tempat yang seadanya. Raut muka terlihat lelah ditambah dengan hitam kulit akibat sengatan matahari yang menambah gambaran betapa beratnya hari yang dilalui.

Tidak jauh dari situ terdapat tempat pembuangan sampah dengan seorang yang sedang mencari keberuntungan dengan keberadaan botol, kaleng dan sampah lainnya yang dapat dijadikan sumber penyambung kehidupan.

Emperan toko menjadi surga bagi mereka yang tidak tau harus kemana saat malam tiba, melepas lelah setelah seharian entah mengerjakan apa demi mengisi perut yang kosong, ya, masi di sekitar situ juga hal itu terjadi

Dokumentasi pribadi :Bagi-bagi nasi bungkus

Dengan jarak yang tidak begitu jauh, terdapat paras-paras cantik seperti menanti seseorang datang, paras-paras cantik yang bukan wanita tetapi hampir tidak terlihat berbeda.

Mereka semua hanya sekedar ingin bertahan hidup, entah bagaimanapun caranya, walaupun mungkin terkadang mereka harus menutup muka dan bahkan menutup hati untuk melakukannya, entah karena tidak berdaya atau karena kurang berusaha, itu hanya mereka yang tau, toh kita hanya bisa berkata dan mereka yang merasa.

Katanya manusia itu memiliki kebebasan dalam memilih serta menentukan jalan hidup, tetapi pada kenyataannya, pikiran dan watak manusia pun berawal dari bentukan lingkungan dan pengetahuan yang di dapat, bukan berasal dari mutlak sebuah keinginan diri sendiri.

Mungkin ketika kecil, pemulung tersebut ingin menjadi seorang guru, presiden dan lain sebagainya, tetapi keadaan berkata lain. Atau mungkin para lelaki cantik tersebut memiliki anak dirumah yang harus ia sekolahkan supaya kelak menjadi orang hebat tidak seperti orang tuanya, kita pun tidak tahu itu.

Ah aku jadi ingat, ada yang bilang Tuhan itu hadir dalam setiap diri manusia lemah yang butuh pertolongan. Itulah wajah Tuhan yang mencoba meminta iba kita ketika hadir dalam wujud manusia.

Lamunanku buyar ketika HP bergetar dan nada dering menggema dari atas meja kamarku. Dalam layar tertulis nama wikan agung menunggu untuk ku jawab panggilan tersebut. Entah dari mana suara wikan pun terdengar ” Ayo kita bagi-bagi nasi bungkus malem ini”. Tanpa berfikir panjang akupun langsung menyaut “Ayo”.

Oleh : Anton Cakman

(Terinspirasi dari bagi-bagi nasi bungkus di malam hari)