Cinta itu Bukan Sekedar Perasaan tetapi Keputusan, Karena Istri/Suami Bukanlah Kolor yang Jika Kendor Cari Lagi yang Kenceng

Oleh : Anton Cakman

Mengenai tema ini sebenarnya sudah pernah saya tulis di salah satu media opini anak muda dengan judul ‘ Cinta itu keputusan bukan perasaan’ dan ada juga yang berjudul “cinta itu bukan sekedar perasaan tetapi keputusan”, dan bahkan sudah di copy paste dengan para bloger copy paste. Tetapi tenang saja, di sini akan saya tuliskan dengan cara yang berbeda.

Dalam menggunakan jargon “cinta itu keputusan bukan sekedar perasaan” bukan hanya kata-kata mutiara yang saya gunakan sebagai gaya-gayaan saja. Tetapi hal ini membutuhkan proses yang sangat panjang di dalam hidup saya sebagai manusia normal yang dihinggapi oleh anugerah cinta.

Titik jenuh, fenomena kawin cerai dan mengkambing hitamkan jodoh

Kawin cerai bukan hanya terjadi di kalangan artis saja, bahkan saya memiliki saudara yang seperti itu. Alasannya sungguh klasik, yaitu belum jodoh. Di sini saya tidak ingin menyangkal tentang keyakinan mengenai jodoh. Tetapi bisa dibayangkan, jika sedikit-sedikit sepasang  suami istri ribut lalu bilang “ya udah kita belum jodoh, kita cerai saja”, maka ganti istri sudah sama dengan ganti kolor, jika udah kendor dibuang lalu cari yang masih kenceng.

Sedangkan kita tahu, se-enak apapun hidup seorang manusia sudah pasti memiliki titik jenuh. Begitu juga dengan kita dan pasangan, suatu saat pasti memiliki titik jenuh tersendiri. Dan bisa dibayangkan, jika pada titik jenuh tersebut kita mengikuti ego kita dan berfikir tentang “tidak jodoh” lalu bercerai, pasti kita akan menyesal dikemudian hari setelah titik jenuh tersebut sudah terlewati dalam kehidupan. Dan celakanya, jika pikiran tersebut terpatri dalam diri kita, maka itu akan menjadi sebuah watak karena kebiasaan berfikir yang seperti itu.

Kita semua pasti setuju, setiap manusia itu tidak ada yang sama, dan setiap manusia itu tidak ada yang sempurna. Dari sebab itu, konflik akan terus terjadi jika masing-masing pasangan tidak memiliki satu pemikiran sama dalam mengarungi kehidupan bersama.

Mengambil keputusan, menyamakan persepsi, pemikiran dan tujuan

Saya akan mengibaratkan jika kita bersama pasangan kita mengendarai sebuah kapal tetapi masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yang satu ingin ke Barat dan yang satu ingin ke Timur. Sudah dapat kita pastikan, bahwa akan terjadi konflik dan tidak akan pernah sampai pada tujuan dalam mengarungi samudera kehidupan.

Di tengah sebuah perbedaan, menyamakan persepsi bukanlah perkara yang mudah. Tetapi bukan berarti menyamakan persepsi dan berakhir pada pemikiran dan tujuan yang sama menjadi tidak mungkin. Secara sederhana saja, rasionalitas tentang penilaian yang baik harus sama-sama digali dan disepakati dengan berlandaskan empati yang menuju kepada cinta sejati suatu hubungan.

Contohnya sangat sederhana, jika kita selingkuh dengan orang lain, apakah itu benar? Dan bagaimana jika hal yang sama menimpa kita, yaitu kita ditinggal selingkuh oleh pasangan kita, bagaimanakah perasaan kita?

Jika alasan sebuah perselingkuhan karena rasa suka yang tumbuh, maka mari kita sama-sama menyadari, bahwa setiap manusia itu tidak ada puasnya, sudah dapat yang baik, akan menginginkan yang lebih baik, baik itu berupa fisik maupun karakter. Dan bagaimana jika pasangan kita juga melakukan hal yang sama? Yang jelas tidak akan ada habis-habisnya dan hidup akan berkutat pada hal-hal itu saja.

Menjadi bijak jika kita sudah memilih pasangan hidup kita, yang harus kita kuatkan adalah sebuah komitmen untuk mengambil sebuah keputusan bahwa, kita akan selalu setia dengan pasangan kita, bahwa kita akan selalu mencoba memperbaiki diri untuk pasangan kita, bahwa kita memutuskan siap untuk berkomitmen menjalani hidup bersama dalam untung dan malang bersama, bahu membahu dalam mengarungi bahtera hidup bersama dengan visi dan misi bersama.

Itulah mengapa cinta itu bukan sekedar perasaan, melainkan keputusan yang mesti diambil supaya cinta menjadi berkah bagi kehidupan.

Demikian dan terima kasih

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *