Perang Tagar dan Nyinyir Cermin Rendahnya Kualitas Serta Belum Dewasa Cara Berfikir dalam Politik

Oleh: Anton Cakman

Tiba-tiba teringat ketika saya masih kecil sering kali ribut sama teman saat bermain. Ribut seorang anak kecil, karena tidak berani berantem secara jantan, seringkali hanya ribut dengan adu mulut yaitu saling olok. Sebuah keberanian untuk berkelahi secara jantan terkadang harus diimbangi dengan kesadaran akan diri sendiri, apakah cukup kekuatan untuk melawan sang lawan tersebut.

Itulah masa kecil, meskipun hari ini berantem, adu mulut, esok hari sudah dapat berdamai, bercanda dan bermain bersama kembali. Meskipun terkadang, ketika anak-anak berantem, orang tuanya terkadang ikut baper, sakit hati, malah gantian yang ribut orang tua dengan orang tua, padahal anaknya sudah main dan ketawa bareng, tetapi orang tua masih saling prengut dan menyimpan dendam.

Nyinyir dan perang tagar menunjukkan rendahnya kualitas politisi

Sama seperti anak kecil yang bisanya saling olok , itulah gambaran perpolitikan saat ini. Para politisi bukannya menunjukkan program, serta potensi yang dimilikinya tetapi justru seperti anak kecil Cuma nyinyir tanpa data tak ada faedah sama sekali.

Bukan hanya nyinyir, perang tagar dengan berbagai jargon pun dilakukan seperti seorang anak kecil yang berkata, saya Batman, tetapi pada kenyataannya tidak memiliki kemampuan seperti manusia super yang dikatakannya. Tagar hanya sebatas tagar, tidak dibarengi dengan aksi nyata sama saja berada di dunia hayal. Ingin menjadi seperti batman, tetapi tidak mempunyai kemampuan bela diri yang mempuni serta otak genius yang mampu menciptakan trobosan teknologi yang keren. Hanya bermodal menggunakan kostum Batman sudah menganggap diri sebagai super hero yang mampu menyelesaikan masalah. Sangat persis dengan anak kecil bukan?

Elit politik dinamis sekarang ribut besok makan bareng, tetapi akar rumput masih menyimpan dendam

Jika dalam cerita saya di atas mengenai anak-anak yang ribut, berantem saling meng-olok tetapi cepat berdamai, tetapi orang tua ikut-ikutan ribut dan susah untuk berdamai, dalam politik pun hampir sama terjadi gambaran seperti itu.

Ketika para elite politik ribut, saling serang, para akar rumput ikut ribut. Tetapi meskipun bukti politik itu dinamis sudah banyak terkuak, dengan para elite yang sudah ribut bisa makan bareng, tertawa dan bercanda bareng, akar rumput tetap saja masih menyimpan dendam.

Coba saja liat, ada suatu partai yang saling bertentangan untuk urusan pilpres, tetapi dalam urusan pilkada justru malah berkoalisi bahu membahu memenangkan cagub yang sama-sama diusung. Dari sini saja sudah sangat jelas, politik itu dinamis.

Bersama menularkan kedewasaan untuk membangun bangsa

Kebebasan dalam demokrasi bukan berarti menghilangkan rasa empati terhadap sesama. Boleh beda dalam berpendapat, tetapi tetap saja dalam mengungkapkan perbedaan tersebut harus memikirkan perasaan orang lain, empati harus dikedepankan.

Coba kembalikan hati nurani untuk mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain mengenai dampak yang terjadi akibat tindakan dan prilaku kita. Jangan menggunakan standar ganda dalam menilai, dimana perbuatan A adalah hal yang salah jika dilakukan orang lain, tetapi menjadi benar jika dilakukan oleh diri sendiri. Hal itu sudah sangat jelas-jelas tidak adil dan sangat merusak tatanan kehidupan.

Para pendiri bangsa sudah menyadari akan hal itu, sehingga menetapkan suatu ideologi  yaitu Pancasila yang dapat mempersatukan masyarakat yang majemuk. Hukum positif secara universal dibuat, untuk menghindari ketidak adilan dan standar ganda yang merugikan salah satu pihak serta menjaga empati tetap terjaga. Marilah kita sama-sama menjadi dewasa dalam berfikir.

Demikian dan terima kasih

 

Gambar : deviantart.net

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *