Kepenuhan Hati dalam Bekerja Menentukan Hasil

Krisis profesionalitas dalam berbagai bidang di negara kita tercinta ini sudah mengakar dari zaman ke zaman, sehingga menyulitkannya untuk dikikis abis. Kegagalan-kegagalan akibat implementasi kerja yang jauh dari bermakna.

Dari aparatur negara, pendidikan, kesehatan dan bisnis semua dilakukan dengan tidak profesional. Semua menyangkal tentang adanya diri sebagai misi pelayanan terhadap sesama dalam bidangnya masing-masing. Bekerja dianggap sebagai beban, itulah banyaknya kegagalan yang terjadi.

Fenomena krisis profesionalisme ditandai dengan  kata yang terlalu jauh dengan faktanya. Janji yang hampir tidak ada relevansinya.

Pola kerja yang tidak totalitas juga tanda profesionalisme yang sudah mulai terkikis, fasilitas menipu, dan banyak pekerja yang bekerja dengan tidak sepenuh hati, menyebabkan hasil juga akan tidak sepenuh hati.

Krisis totalitas kerja bukan tanpa sebab, tetapi akibat pemahaman sebuah pekerjaan yang dianggap sebagai sebuah beban yang harus dipanggul. Padahal, totalitas merupakan tonggak dari profesionalisme. Bekerja hanya dipandang sebagai kewajiban buta, yang menyebabkan keterpaksaan dalam bekerja, kebahagiaan tidak tercermin dalam bekerja, hal tersebut menghantam profesionalitas dalam bekerja.

Memandang bekerja hanya untuk bertahan hidup, menyebabkan bekerja tidak dipandang sebagai privilese ( hak istimewa), melainkan dianggap sebagai beban. Hal itu menyebabkan keterpaksaan dalam bekerja, bukan panggilan yang mulia.

Profesionalitas terjadi  jika pemahaman tentang bekerja sudah tepat. Jika kita sudah dapat memandang bekerja sebagai panggilan hidup yang mulia, tentu saja profesionalitas sudah menemukan titik cerah untuk dapat digapai, dan kebahagiaan dalam bekerja juga sudah terpenuhi. Hal tersebut menyebabkan totalitas, keakuratan dalam bekerja bisa dibangun. Mau dipercaya atau tidak, kejayaan suatu negara baik itu secara politik dan ekonomi akan jaya, jika pemahaman tentang bekerja benar.

Dari itu, marilah kita melepaskan persepsi-persepsi yang sesat dari bekerja. Bekerja harus dimaknai sebagai pembebasan diri, pembebasan diri dari kebosanan, kemiskinan dan ketidak bergunaan.

Bekerja merupakan ujung tombak dari produktivitas, karena tanpa bekerja, sudah pasti produktivitas tidak akan ada.

Musuh terbesar kita adalah setengah hati, yang menyebabkan  hilangnya komitment yang berdampak pada totalitas yang terbenam. Jadi marilah kita lawan yang namanya setengah hati, supaya kita dapat berkomitmen yang berujung pada totalitas yang akan menghasilkan kesempurnaan.