Gunung Kapi di Kitab Raja Purwa Alias Krakatau

Krakatau.id -“Seluruh dunia terguncang hebat, Guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi hujan itu bukannya mematikan ledakan Gunung Kapi, justru semakin mengobarkannya; suara mengerikan; akhirnya Gunung Kapi dengan dahyat meledak berkeping-keping dan tenggelam di bagian terdalam bumi,” itulah penggalan dari isi kitab Raja Purwa. Kitab Raja Purwa ditulis oleh seorang pujangga Kesultanan Surakarta bernama Ronggowarsito. Saat ini, salinan kitab tersebut bisa ditemui dan tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Jakarta.

Jalan Menuju Gunung Rajabasa Kalianda Lampung Selatan @ ssl.panoramio.com

Penggunakan  kata “gunung kapi” dalam naskah tersebut membuat kebingungan tersendiri jika tidak dibaca penjelasan lain yang mengikutinya. “Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka.” Dalam deskripsi tersebut, gunung Raja Basa merupakan gunung yang berada di Lampung Selatan.

Letusan yang tercatat pada tahun 1883 adakah letusan sebelumnya?

Old painting of Krakatoa (Krakatau)@wikipedia

Dokumentasi yang tercatat, termuat dalam buku Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects (1984) karya Simkin dan Fiske. Sedangkan kitab Raja Purwa diterbitkan pada tahun 1869. Raden Ngabehi Ronggowarsito sebagai penulis kitab Raja Purwa sendiri lahir pada 15 Maret 1802 dan meninggal pada 24 Desember 1873.

Dari keterangan di atas, tentu saja timbul berbagai spikulasi, apakah letusan yang dimaksud dalam kitab Raja Purwa terjadi adalah letusan sebelum tahun 1883, karena jika dilihat dari letusan terakhir masih menyisakan anak gunung Krakatau yang masih aktif hingga saat ini. Tentu saja dugaan letusan sebelum tahun 1883 menjadi lebih kuat dengan adanya anak gunung Krakatau sebagai pengganti gunung Krakatau yang sudah meletus pada tahun 1883.

Seperti sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali, itu juga kemungkinan yang terjadi dalam kitab Raja Purwa.

Ramalan sebelum krakatau meletus

Selain dugaan letusan yang terjadi sebelum 1883, analisa atau ramalan dari pelaku spiritual pada zaman dahulu juga bisa menjadi pertimbangan tersendiri. Tetapi peluang tersebut mungkin sedikit kurang mengena, mengingat antara tempat tinggal penulis cukup jauh dari krakatau berada. Analisa dan ramalan tentu saja ada karena gejala-gejala yang ditemui oleh peramal tersebut baik secara fisik maupun non fisik seperti perilaku, itu rasionalitas kemungkinannya.  Pengamatan yang intens tentu saja memiliki peluang ketepatan suatu analisa dan ramalan. Sebagai contoh, pada zaman purba, ramalan cuaca mungkin masih sederhana, seperti jika mendung, maka akan turun hujan, tetapi berbeda dengan saat ini, ramalan cuaca esok hari sudah dapat diramalkan hari ini tanpa menunggu mendung menjelma.

Saat ini, setiap gunung berapi dipantau aktivitasnya, untuk memberikan peringatan dini jika akan terjadi letusan. Jika saat ini menggunakan alat lebih modern untuk menganalisa, kemungkinan pada zaman dahulu, menggunakan tanda-tanda alam yang terjadi.

Tetapi jika ramalan yang dimaksudkan berkaitan dengan hal-hal gaib, tentu saja hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan mutlak. Meskipun demikian, tidak masalah jika hal tersebut ada yang meyakini.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *