Belenggu Dogmatis dan Persepsi yang Dijadikan Tolok Ukur Kebenaran Mutlak

Perdebatan, iya perdebatan, mungkin kita pernah mendengar atau bahkan terlibat dengan yang namanya debat kusir, debat yang tiada habis-habisnya dan tidak bakal menemukan titik temu, karena masing-masing menganggap pendapat atau lebih tepatnya keyakinannya masing-masing itu lah yang paling benar.

Debat kusir biasanya terjadi karena pengaruh dogmatis yang melekat didalam pikiran manusia, dimana pikiran yang meyakini sesuatu konsep atau ajaran dan yang pasti konsep  tersebut tidak boleh dipertanyakan lagi kebenaran, jadi konsep tersebut mutlak dianggap benar titik.

Manusia dogmatis cenderung memaksakan kehendak dengan patokan-patokan yang diyakini tanpa boleh dipertanyakan, dan pemaksaan kehendak pun akan dilakukan. Kemelekatan pada suatu konsep  dan keyakinan membuat pikiran menjadi buta.

Manusia dogmatis cenderung memiliki ketakutan-ketakutan  yang luar biasa terhadap ketakutan-ketakutan jika apa yang diyakini tidak dilakukan, maka kekacauan-kekacauan pada dunia akan terjadi.

Karena kecenderungan tidak bolehnya ada pertanyaan didalam konsep yang diyakini manusia dogmatis, maka hukum sebab akibat pun diabaikan, kecenderungan berfikir sempit, manusia dogmatis bisa dikatakan atau bahkan dicap ( maaf) bodoh.

Selama manusia dogmatis merajalela didunia, mau berapa saja dana yang digelontorkan untuk memfasilitasi perdamaian didunia,  perdamaian tetap sulit untuk diwujudkan, paling tidak akan terganggu dengan para kaum dogmatis.

Bagaimana kita mengetahui apakah kita termasuk kaum dogmatis atau tidak, mungkin bisa kita lihat dan kita renungkan dengan kesadaran penuh, apakah didalam pikiran kita ada konsep atau sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan? Jika masih itulah kemelekatan , dan kemelekatan itulah akar permasalahannya, seperti seorang yang sudah ketagihan narkoba, hampir sama seperti itulah kemelekatan dan efeknya.

Kemelekatan harus dihilangkan, dengan hilangnya kemelekatan, maka ke egoisan dan keakuan akan hilang, seiring hilangnya kemelekatan, kesadaran akan muncul dengan sendirinya, dengan adanya kesadaran, kesemuan pun akan tampak jelas terlihat.

Dengan kesadaran, keselarasanpun tidak perlu dicari tetapi akan menyatu dengan sendirinya, keselarasan terhadap sesama dan alam akan muncul dengan sendirinya, bisa di istilahkan manusia adalah alam, dan alam adalah manusia.

Berakal dari sebuah persepsi yang dijadikan penilaian mutlak

Dogma berawal dari sebuah persepsi yang dihujamkan serta dijadikan dasar sebagai patokan sebuah benar. Sedangkan yang namanya sebuah persepsi merupakan hasil buah pikir manusia yang didapat dari wawasan serta pengetahuan apa saja yang telah ia terima sepanjang hidup.

Kebenaran sebuah persepsi tidak boleh dijadikan patokan atau ukuran suatu kebenaran. Misalnya, persepsi mengenai orang dengan golongan darah B memiliki sifat yang baik hati, hemat, rajin, pandai dan lain sebagainya. Hal ini hanya sebuah persepsi yang didasarkan dari pengamatan orang-orang yang bergolongan darah B saja. Kita boleh mempercayainya, tetapi kita tidak boleh menjadikannya sebagai patokan ukuran sebuah kebenaran yang mutlak.

Pada kenyataannya sifat manusia itu tidak dapat dinilai dari golongan darah, agama, suku, ras dan pendidikan. Coba lihat saja, banyak orang beragama yang korupsi, maling, membunuh dan lain sebagainya. Atau banyak orang berpendidikan tinggi dianggap pintar, tetapi pada kenyataannya ada juga orang berpendidikan tinggi yang tertipu oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi sebagai seseorang yang dapat menggandakan uang. Atau penilaian terhadap suku batak (maaf) yang dianggap jika ngomong seperti orang teriak-teriak, padahal jika ada orang batak yang lama tinggal dengan keluarga yang bersuku jawa dan bertempat di Solo, maka saya jamin akan seperti orang Solo.

Mari kita kritis, terbuka dan menggunakan akal sehat kita untuk dapat menilai sesuatu secara jernih.

Demikian dan terima kasih

 

Gambar :aziz-anzabi.com

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *